Amerika Lagi Dilanda Huru Hara, Bursa Asia Ikut Ambles

An electronic board shows Hong Kong share index outside a local bank in Hong Kong, Wednesday, Jan. 16, 2019. Asian markets are mixed as poor Japanese data and worries about global growth put a damper on trading. (AP Photo/Vincent Yu)

Bursa Asia-Pasifik dibuka melemah pada perdagangan Rabu (3/5/2023), jelang keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) pada Kamis dini hari waktu Indonesia.

Per pukul 08:30 WIB, indeks Hang Seng Hong Kong ambles 1,24%, Straits Times Singapura merosot 0,9%, ASX 200 Australia ambrol 1,15%, dan KOSPI Korea Selatan melemah 0,74%.

Sementara untuk pasar saham China dan Jepang pada hari ini tidak dibuka karena sedang libur nasional.

Bursa Asia-Pasifik yang cenderung melemah terjadi menyusul bursa saham AS, Wall Street yang ditutup berjatuhan akibat pasar khawatir dengan krisis perbankan dan plafon utang AS.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup ambles 1,08%, S&P 500 ambrol 1,16%, dan Nasdaq Composite merosot 1,08%.

Saham perbankan di AS merosot, karena investor mempertanyakan stabilitas lembaga keuangan regional yang lebih kecil setelah krisis yang melanda Silicon Valley Bank (SVB) dan First Republic Bank dan keduanya pun di ambang kebangkrutan.

Saham-saham bank di AS seperti Bank regional PacWest dan Western Alliance masing-masing anjlok hingga 27% dan 15%. Sedangkan saham bank raksasa di AS seperti Goldman Sachs dan Citigroup juga ambles lebih dari 2%, dan Bank of Amerika (BoA) ambrol sekitar 3%.

Hal ini juga terjadi setelah JPMorgan Chase resmi memenangi lelang atas akuisisi First Republic Bank, yang baru-baru ini ditimpa krisis. Namun, saham JPMorgan juga berbalik arah merosot 1,6%, setelah sempat melesat di awal sesi perdagangan kemarin.

Sebelumnya menurut laporan Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) pada Senin kemarin, JPMorgan akan mendapatkan semua simpanan dari First Republic Bank termasuk sebagian besar asetnya.

JPMorgan mendapatkan sekitar US$ 92 miliar dalam bentuk deposito pada kesepakatan tersebut, termasuk sebesar US$ 30 miliar yang telah didepositkan JPMorgan dan bank-bank besar lainnya ke dalam First Republic bulan lalu.

Bank ini juga mengambil pinjaman US$ 173 miliar dan sekuritas US$ 30 miliar.

Pasar juga dikhawatirkan dengan utang AS yang cenderung bermasalah. Menteri Keuangan AS, Janet Yellen mengatakan bahwa AS bakal gagal membayar utang (default) pada 1 Juni mendatang.

Hal ini akibat alotnya pembahasan untuk menaikkan plafon utang AS. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang kini dipimpin Partai Republik memilih untuk menaikkan menaikkan batas pinjaman nasional.

Ada syarat yakni pemotongan drastis anggaran belanja karena pemerintah dianggap terlalu boros, yang bakal menjadi sandungan bagi Presiden Joe Biden yang berasal dari Partai Demokrat.

“Perkiraan terbaik kami adalah bahwa kami tidak akan dapat terus memenuhi semua kewajiban pemerintah pada awal Juni, dan berpotensi paling cepat 1 Juni,” katanya dikutip¬†AFP, Selasa (2/5/2023).

Yang paling utama adalah pasar menanti sikap bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) terhadap kebijakan suku bunga acuan, meski pelaku pasar sudah memprediksi bahwa The Fed masih akan menaikkan suku bunga acuannya pada pertemuan Selasa-Rabu pekan ini.

Sejauh ini, menurut alat FedWatch CME Group, sekitar 91,5% investor bertaruh bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bp). Sedangkan 8,5% investor bertaruh The Fed akan mempertahankan suku bunganya.

Pelaku pasar di Wall Street juga akan memantau dengan cermat pernyataan dari Ketua The Fed, Jerome Powell yang akan memberikan petunjuk tentang arah kebijakan moneter The Fed ke depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*