Ekonomi China Makin Gelap, Diramal Bakal “Hilang” 10 Tahun!

A pro-China supporter holds a Chinese national flag during a rally to celebrate the approval of a national security law for Hong Kong, in Hong Kong, Tuesday, June 30, 2020. Hong Kong media are reporting that China has approved a contentious law that would allow authorities to crack down on subversive and secessionist activity in Hong Kong, sparking fears that it would be used to curb opposition voices in the semi-autonomous territory. (AP Photo/Kin Cheung)

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot pada Kamis kemarin. Kabar baik datang dari Amerika Serikat (AS) di mana inflasinya terus melambat. Tetapi, kabar berbeda datang dari China, inflasinya sangat rendah yang bisa memberikan masalah bagi Indonesia.

Sentimen negatif dari China masih akan berpengaruh ke pasar finansial Indonesia hari ini, beberapa faktor lain https://prodwslot88.com/ akan dibahas pada halaman 3.

IHSG kemarin turun 0,82% menjadi 6755,93. Sebanyak 333 saham melemah, 185 saham menguat, sementara 212 lainnya mendatar. Perdagangan menunjukkan transaksi mencapai Rp10,50 triliun dengan melibatkan 18.78 miliar saham yang berpindah tangan sebanyak 1,60 juta kali.

Rupiah yang sempat menguat di awal perdagangan berakhir stagnan Rp 14.720/US$. Sementara Surat Berharga Negara (SBN) hanya 25 tahun yang melemah, terlihat dari imbal hasilnya (yield) yang naik.

Pergerakan yield berbanding terbalik dengan harga obligasi. Ketika harga naik maka yield akan turun, begitu juga sebaliknya.

Penguatan SBN menunjukkan pasar merespon data inflasi di Amerika Serikat.

Inflasi pada April dilaporkan tumbuh 4,9% (yoy) lebih rendah dari ekspektasi ekonom sebesar 5%. Inflasi inti yang tidak memasukkan sektor energi dan makanan dalam perhitungan tumbuh 5,5%, lebih rendah dari bulan sebelumnya 5,6% tetapi sesuai ekspektasi.

Ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral AS (The Fed) pada bulan depan pun menurun. Data terbaru dari perangkat FedWatch milik CME Group menunjukkan pelaku pasar kini melihat probabilitas sebesar 9% The Fed akan kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 5,25% – 5,5% pada 14/15 Juni mendatang.

Probabilitas tersebut menurun drastis ketimbang sebelum rilis data inflasi, sebesar 21%.

Sayangnya kabar baik dari Amerika Serikat tersebut ditutupi oleh China.

Data dari pemerintah China menunjukkan inflasi pada April hanya tumbuh 0,1% year-on-year (yoy) jauh lebih rendah dari bulan sebelumnya 0,7%, juga lebih rendah dari prediksi Reuters 0,4%.

Inflasi tinggi bisa menggerus daya beli masyarakat, sebaliknya inflasi yang rendah bisa berarti daya beli masyarakat lemah atau masyarakat enggan berbelanja dan memilih saving. Sehingga, tingkat inflasi yang tepat, bisa merupakan indikator kesehatan dan pertumbuhan ekonomi.

Negara-negara maju misalnya, menetapkan target inflasi sebesar 2%, tidak lebih dan tidak kurang.

“Pandangan inti kami ekonomi China mengalami deflasi,” kata Raymond Yeung, kepala ekonom untuk China di ANZ Research, sebagaimana dilaporkan CNN, Selasa (25/4/2023).

Deflasi bisa menjadi masalah yang tidak kalah rumit ketimbang inflasi tinggi. Jepang sudah mengalaminya selama dua dekade yang membuat pertumbuhan ekonominya sangat rendah.

“Satu kalimat yang bisa menggambarkan ekonomi China saat ini adalah deflasi sudah dimulai dan perekonomian menuju jurang resesi,” kata Liu Yuhui, profesor di Chinese Academy of Social Sciences (CASS).

Liu menambahkan kondisi China saat ini sama dengan Amerika Serikat 15 tahun lalu saat dilanda krisis finansial global, dan Jepang 30 tahun lalu saat mengalami lost decade.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*