Panglima Militer AS Blak-blakan Masa Depan Perang Ukraina

ARLINGTON, VIRGINIA - NOVEMBER 16:  Chairman of the Joint Chiefs of Staff Gen. Mark Milley speaks during a press briefing after a virtual Ukraine Defense Contact Group meeting at the Pentagon on November 16, 2022 in Arlington, Virginia. The Ukraine Defense Contact Group met again to discuss aiding for Ukraine amid Russia’s invasion. (Photo by Alex Wong/Getty Images)

Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat (AS) Mark Milley membeberkan prediksinya terkait durasi perang antara Rusia dan Ukraina. Dia mengatakan negosiasi mungkin terjadi dalam satu atau dua tahun.

Hal ini disampaikan Milley dalam sebuah podcast dengan Foreign Affairs yang ditayangkan pada Selasa (2/5/2023).

Milley mengeklaim militer Rusia telah menderita 250.000 korban dan bahwa tentara, masyarakat, dan ekonomi semuanya sangat terpengaruh oleh konflik tersebut. Adapun, dia enggan berspekulasi tentang korban di pihak Ukraina.

Menurutnya, Rusia telah gagal mencapai salah satu tujuannya di Ukraina. Berdasarkan hal itu, Milley berargumen bahwa orang-orang rasional di Moskow akan diyakinkan dalam beberapa bulan atau satu atau dua tahun untuk bernegosiasi.

“Mereka tidak akan menang. Saya pikir, bagaimanapun, kemungkinan kedua belah pihak mencapai tujuan politik mereka – perang adalah tentang politik melalui penggunaan sarana militer saja – saya pikir itu akan menjadi sangat sulit, sangat menantang. Dan terus terang, saya tidak berpikir kemungkinan itu mungkin terjadi di tahun ini,” katanya, sebagaimana dikutip Russia Today, Rabu (3/5/2023).

AS selama ini telah membantu melatih dan melengkapi militer Ukraina untuk operasi yang akan datang, baik ofensif maupun defensif. Hanya saja, imbuh Milley, pertempuran itu tidak mungkin menghasilkan pemenang yang jelas pada tahun ini.

Saat ditanya apa yang dia harapkan dari serangan balik Ukraina, Milley mengatakan AS dan mitra NATO Eropanya telah membantu Ukraina melatih dan memperlengkapi persenjataannya.

“Pasukan Kyiv saat ini memiliki kemampuan untuk menyerang, mereka dapat melakukan operasi ofensif, dan mereka juga memiliki kemampuan untuk bertahan, secara signifikan ditingkatkan dari apa yang mereka lakukan setahun yang lalu untuk operasi konvensional,” katanya.

“Mereka memiliki banyak perencanaan dan koordinasi dan semua itu harus dilakukan, jika mereka akan melakukan operasi ofensif.”

Menurut Milley, jika Ukraina benar-benar melancarkan serangan, segala sesuatu mungkin terjadi, mulai dari meruntuhkan front Rusia sepenuhnya hingga tidak berhasil sama sekali untuk kembali melawan.

Dalam podcast itu, Milley juga menyatakan bahwa Rusia dan China menyadari kekuatan militer AS dan tidak menginginkan konfrontasi langsung dengan Washington.

“AS harus melakukan apa yang dapat dilakukan untuk memastikan bahwa Rusia dan China tidak membentuk aliansi militer strategis,” pungkasnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*